aditya's posts with tag: syariah
Berikut ini adalah ceramah dari Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah tentang kilas balik 20 tahun tarbiyah islamiyah di Indonesia. Ustadz Rahmat dengan gayanya yang khas mengungkapkan makna inti dari halaqah, bagaimana seorang kader itu harus cerdas, serta tentu saja kilas balik 20 tahun tarbiyah islamiyah. Insya Allah, bagi yang mengenal beliau, akan melepas kerinduan kita akan nasihat-nasihat yang bernas dari beliau. Semoga Allah memberikan pahala yang berlimpah kepada beliau. Amiin.
sumber: pks-anz.org | Kilas balik 20 tahun Tarbiyah Islamiyah.mp3 (audio/mpeg Object) | | | | | |
The first episode of the Zaytuna Monthly Videocast series, featuring timely reflections from Shaykh Hamza Yusuf.
Hamza Yusuf was born in Washington State and raised in Northern California. In 1977, he became Muslim and subsequently traveled to the Muslim world and studied for ten years in the U. A. E., Saudi Arabia, as well as North and West Africa. He received teaching licenses in various Islamic subjects from several well-known scholars in various countries. After ten years of studies abroad, he returned to the USA and took degrees in Religious Studies and Health Care. He has traveled all over the world giving talks on Islam. He also founded Zaytuna Institute which has established an international reputation for presenting a classical picture of Islam in the West and which is dedicated to the revival of traditional study methods and the sciences of Islam.
Shaykh Hamza is the first American lecturer to teach in Morocco's prestigious and oldest University, the Karaouine in Fes. In addition, he has translated into modern English several classical Arabic traditional texts and poems. Shaykh Hamza currently resides in Northern California with his wife and five children. Import.flv (49.0 MB)
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, segala puji hanya bagi-Nya tuhan semesta alam, karena kepada-Nya kita bersyukur atas segala rahmat nikmat yang telah kita dapatkan semenjak kita diciptakan hingga saat ini. Catatan kali ini saya buat untuk mengingatkan kembali diri saya tentang kematian, berdasarkan firman Allah, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati..." (QS. al-Imran: 185) dan "Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di benteng yang tinggi lagi kokoh..." (QS. an-Nissa: 78) Sudah jelas bahwa kematian itu pasti dan tiada yang dapat menghalanginya, tidak ada seorangpun pun dari kita yang mengetahui kapan kematian itu tiba, karena ini memang rahasia Ilahi. Tetapi yang lebih parah adalah hampir sebagian besar dari kita (akan menyatakan) belum siap ketika malaikat maut (Izroil) menghampiri untuk mencabut jiwa kita. Terlintas di pikiran saya, apabila ada seseorang divonis dokter bahwa hidupnya hanya sampai akhir tahun ini, kira-kira apa yang akan dilakukannya? Analisa saya dengan merangkum informasi yang ada, mengelompokkan menjadi empat kategori, yaitu: - Menjadi orang baik dan bermanfaat. Orang ini akan mengeluarkan seluruh potensi yang ia miliki untuk kemaslahatan umat manusia, termasuk dirinya. Dia akan habis-habisan mencurahkan seluruh kemampuannya untuk berbuat baik dan bermanfaat sampai tiba waktu matinya.
- Menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Orang dalam kategori ini akan menyeluarkan semua yang dia miliki untuk menikmati semua kesenangan dunia yang belum pernah dia cicipi, apapun itu dia habiskan seluruh waktunya untuk bersenang-senang mumpung masih hidup fikirnya, tidak peduli itu melampaui batas-batas syariat atau tidak. nauzubillah, biasanya bukan orang yang mempercayai hari akhirat
- Sakit gila. Kategori ini bisa dibilang parah, orang yang tidak siap secara mental spontan menjadi sakit gila, dia tidak dapat melakukan hal-hal pada dua kategori sebelumnya, contoh aktivitas yang dia lakukan adalah mencoba bunuh diri, dengan logika mencari pembuktian analisa dokter bahwa apakah benar dia akan mati pada akhir tahun? apabila dia mati pada akhir tahun, maka jika dia mencoba bunuh diri sekarang seharusnya tidak akan mati. premis yang parah kan, wajar gila...
- Biasa saja. Kategori ini hanya diisi oleh orang-orang tertentu yang saya pun agak sulit memahami jalan pikiran mereka. Mereka menerima vonis tanpa beban, tanpa ada rasa kecewa, sedih, senang, atau lainnya, atau mungkin orang-orang dalam kategori ini memiliki mental yang (amat sangat) siap, sehingga hal yang berkaitan dengan kematian dirinya dianggap biasa saja. hebat!!! tapi aneh gak lazim...
Kadang saya juga bingung koq bisa-bisanya ada orang-orang yang menempati kategori 2, 3 dan 4. Saya yakinkan anda, jangan heran, itu semua ada dan itu realita. Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita mereferensi kepada Quran dan Hadits, sudah seharusnya kita paham hakiat hidup ini, tujuan kita diciptakan, tanpa harus menunggu vonis dari dokter untuk mengubah seorang muslim menjadi seorang yang (lebih) baik dan bermanfaat. Berbicara kematian memang (kadang) menyeramkan, karena kita selalu diliputi dengan pertanyaan sudahkan cukupkah bekal persiapan kita untuk menuju hari akhir? Tapi bagi sebagian muslim yang memang sudah yakin Allah adalah tujuannya dan sudah menjadikan Quran dan Hadits sebagai panduan hidupnya, dia tidak akan gentar walaupun akhir tahun ini harus mati, atau nanti malam harus menemui Izroil, bahkan dia mencari mati ( bukan mati konyol ya) agar dapat segera bertemu dengan Rabb-nya, subhanallah. Bagi seorang muslim, mati syahid menjadi harga mati yang harus dia capai pada akhir hidupnya, kenapa? karena mati itu hanya sekali, seminimal mungkin seorang muslim harus mati dalam keadaan yang baik, husnul khatimah dan sangat disayangkan sekali apabila kita mati bukan dalam keadaan baik, su’ul khatimah, nauzubillah. Anda tahu Dokter Rantisi? Beliau adalah seorang pejuang Hamas yang mengikrarkan memilih mati ditembak oleh apache (sejenis helikopter buatan amerika) daripada mati karena sakit jantung dan subhanllah, Allah mengijabah doa beliau. Ada sebuah video dokumenter tentang Dokter Rantisi dengan judul " Are You Afraid to Die?" yang dirilis oleh KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina), video ini sangat bagus untuk mengingatkan kita, terlebih saya pribadi tentang kematian. Ok, selamat menikmati, terakhir di manakah posisi kita sekarang berada? sudah cukupkah bekal kita? sudah siapkah kita? semoga catatan ini bermanfaat :) Rerefensi:
Ready Steady Can't Hold Me Back Ready Steady Give Me Good Luck Ready Steady Never Look Back Let's Get Started Ready Steady Go Judul catatan kali ini menjiplak dari judul sebuah lagu band Jepang, l'arc en ciel. Saya suka dengan bit music lagu ini, enerjik, bergairah, memacu adrenalin. Ada atau tidak kaitannya dengan catatan saya kali ini, hmmm... silahkan Anda menilainya sendiri. Ok kita mulai, bismillah. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang memberikan masukan apapun kepada catatan saya sebelumnya, setelah merenung, membaca, menelaah, menimbang, saya memutuskan beberapa hal, yaitu: - Saya akan membuat sebuah tim untuk mendapatkan uang 500 juta rupiah
- Usaha-usaha yang saya akan jalankan masih diseputar kemampuan saya
- Progress akan saya laporkan via multiply setiap akhir bulan
Bagi diri saya pribadi pun ada beberapa langkah-langkah yang harus saya ambil dan lakukan , yaitu: Pertama, mengubah Mind Set.
Berdasarkan hadits qudsi Allah berfirman ”Aku seperti prasangka hambaKu”, membuat saya harus selalu berfikiran positif terhadap semua yang telah, sedang dan akan terjadi sehingga apapun itu inysa Allah akan berefek baik, baik kepada diri saya pribadi maupun lingkungan. Kedua, agar bermakna ibadah maka saya harus meluruskan niat dan tujuan. Berdasarkan hadits Arbain pertama: Amirul mukminin, Abu Hafash Umar bin Khattab ra. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya semua amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya yang diterima seseorang itu, apa yang dia niatkannya. Maka siapa yang niat hijrahnya karena Allah dan Rasulullah saw, maka hijrahnya diterima oleh Allah dan Rasulullah saw. Dan siapa yang hijrahnya untuk mencari keuntungan dunia atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya terhenti pada apa yang dia niatkan (Bukhari Muslim) Pada catatan awal, mungkin terlihat sangat duniawi sekali, baiklah mari kita beri sentuhan akhirat. 1. Membeli rumah di Pesona Khayangan Mungil Depok, ini nanti bukan hanya sebagai tempat berteduh, tetapi juga akan digunakan sebagai tempat ibadah untuk keluarga sakinah mawaddah warahmah yang akan menghuninya, amin.
2. Melangsungkan pernikahan kali ya, kalau ini tentunya sudah jelas, sunnah nabi :)
3. Beli motor Honda CBR, Ya Allah setelah mendapatkan wasilah ini, jadikan dia sebagai kendaraan yang mengantarkan diriku kepada tempat-tempat yang baik, dengan tujuan yang baik dan hasil-hasil yang baik, amin.
4. Dua buah Notebook dan satu buah Desktop Computer. Saya akan menggunakan semua komputer ini untuk kepentingan Islam.
5. Server, idem sama nomor 4. Ketiga adalah agar ibadah saya diterima maka harus memenuhi syarat diterimanya ibadah yaitu: Ikhlas dan Sesuai Syariah. Kedua syarat ini tidak boleh diabaikan salah satunya, karena barangsiapa melaksanakan suatu amalan dengan ikhlas, tapi menyelisihi atau menyalahi ajaran Rasulullah maka amalan itu tertolak atau sia-sia. Begitu pula sebaliknya siapa saja yang beramal sesuai ajaran Rasulullah tapi niatnya tidak ikhlas karena Allah maka sia-sia pula amalan itu.Mungkin saat ini baru tiga hal itu yang terpikir oleh saya, mungkin rekan-rekan bisa menambahkannya :) Tiga hari setelah saya memposting catatan Cara Mendapatkan Uang 500 Juta Rupiah, Muhammad Syafi`i Antonio mengirimkan saya SMS yang isinya, "Orang merencanakan ke Bulan bukan tiba-tiba sampai di Bulan, orang merencanakan ke Surga bukan tiba-tiba berada di Surga, perlu upaya maksimal mencapainya". Well, Iya setuju pisan pak! :) Persiapan awal sudah selesai, ok, wanna touch the sky? let's fly! :)
|
|